Pewaris Utama Wicha Luang Pu Tim dan Fakta di Balik Khun Paen Phrai Kuman
Luang Phor Sakorn dari Wat Nong Krap, Distrik Ban Khai, Provinsi Rayong, adalah murid utama dari mendiang guru besar legendaris, Luang Pu Tim Issariko dari Wat Lahan Rai. Sebagai pewaris ilmu pembuat amulet "Khun Paen Phong Phrai Kuman" yang sangat fenomenal di kalangan kolektor, Luang Phor Sakorn pernah membagikan kisah kenangannya saat menuntut ilmu dari Luang Pu Tim, hingga misinya membangun "Museum Yantra" pertama dan satu-satunya di Thailand.
Berikut adalah perjalanan spiritual Luang Phor Sakorn dan kisah-kisah menakjubkan yang beliau alami.
Awal Mula Menjadi Anak Angkat Luang Pu Tim Luang Phor Sakorn adalah warga asli Ban Nong Krap (sekitar 10 km dari Wat Lahan Rai). Beliau pertama kali mendatangi Luang Pu Tim saat masih berusia 15 tahun dan duduk di bangku sekolah menengah. Beliau langsung tinggal dan tidur di vihara untuk mengabdi kepada Luang Pu Tim.
Melihat dedikasi anak muda ini, orang tua Luang Phor Sakorn secara resmi menyerahkan putranya untuk menjadi "anak angkat" Luang Pu Tim. Sejak saat itu, segala ilmu yang ingin dipelajari oleh Luang Phor Sakorn selalu dikabulkan, padahal Luang Pu Tim dikenal sangat selektif dan jarang mau mewariskan ilmunya kepada sembarang orang.
Ujian Ketekunan Selama 5 Tahun Luang Pu Tim sangat berhati-hati dalam menurunkan wicha (ilmu spiritual). Beliau takut jika ilmunya diajarkan, murid tersebut tidak serius menggunakannya. Karena itu, Luang Pu Tim menguji ketekunan Luang Phor Sakorn dengan cara menyuruhnya menulis dan menghafal teks Yantra.
Setiap hari, Luang Phor Sakorn harus menulis satu bab Yantra dan menghafalnya di luar kepala. Setelah hafal, ia harus menyetorkannya kepada sang guru sebelum bisa lanjut ke bab berikutnya. Hal ini dilakukan terus-menerus selama 4 hingga 5 tahun. Karena saking banyaknya buku mantra yang harus dihafal, Luang Phor Sakorn muda kadang diam-diam menyalin buku tersebut saat gurunya lengah. Mengetahui hal itu, Luang Pu Tim tidak marah, melainkan tertawa dan memaklumi karena beliau sendiri dulu juga belajar dengan keras.
Mukjizat Memanggil Ikan dan "Wicha" yang Tidak Boleh Diwariskan Meski Luang Pu Tim terlihat seperti bhikkhu tua yang pendiam dan biasa saja, Luang Phor Sakorn pernah menyaksikan sendiri keajaiban gurunya.
Suatu siang, Luang Pu Tim sedang duduk bersantai di bawah pohon dekat danau vihara. Saat mereka sedang asyik mengobrol, Luang Pu Tim memasukkan tangannya ke dalam air dan menjentikkan jarinya dua atau tiga kali. Tiba-tiba, gerombolan ikan dari berbagai jenis berenang mendekat dan berkumpul di depannya. Beliau menjentikkan jari lagi, dan ikan yang datang semakin banyak.
Beberapa minggu kemudian, Luang Phor Sakorn yang penasaran menanyakan hal itu. Luang Pu Tim mengakui bahwa itu adalah wicha pemanggil hewan. Luang Phor Sakorn memohon berkali-kali untuk diajarkan wicha tersebut, namun hingga akhir hayatnya, Luang Pu Tim menolak memberikannya.
Alasannya sangat masuk akal: mantra itu terlalu berbahaya. Mantra tersebut tidak hanya bisa memanggil ikan atau hewan, tetapi juga bisa digunakan untuk memanggil manusia. Jika jatuh ke tangan orang yang tidak bermoral, ilmu itu bisa disalahgunakan. Luang Pu Tim akhirnya membawa rahasia wicha tersebut hingga akhir hayatnya.
Mengungkap Fakta Pembuatan Khun Paen Phong Phrai Kuman Mengenai pembuatan amulet legendaris "Khun Paen Phong Phrai Kuman" pada tahun 1974 (2517 BE), Luang Phor Sakorn menceritakan bahwa ide awalnya justru datang dari panitia vihara yang ingin mencari dana untuk pembangunan Wat Lahan Rai yang saat itu masih berupa hutan.
Para muridlah yang mengusulkan pencampuran Phong Phrai Kuman (bubuk arwah bayi). Pembuatannya melibatkan Paman Poon, penggali kubur vihara, yang mengambil rambut dan lidah (bukan tengkorak) dari bayi yang meninggal di dalam kandungan. Bahan tersebut kemudian diolah dan diserahkan kepada Luang Pu Tim.
Luang Pu Tim melakukan pemberkatan sendirian selama lebih dari satu minggu untuk menyucikan dan mengendalikan entitas tersebut dengan energi spiritual (Kusala) yang tinggi. Luang Phor Sakorn mengingatkan:
"Segala hal yang berkaitan dengan hantu atau arwah sebenarnya berbahaya jika sang pembuat tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikannya. Luang Pu Tim sangat sakti, beliau mampu menundukkan dan memberkatinya dengan sempurna. Namun bagi pembuat amulet biasa, bermain-main dengan arwah sangatlah berisiko dan bisa membuat penggunanya celaka atau kehilangan kewarasan."
Membangun Museum Yantra Pertama di Thailand Sebagai pewaris wicha, Luang Phor Sakorn juga memiliki bakat seni rupa yang beliau pelajari dari Ajarn Riang (Departemen Seni Rupa Thailand). Bakat ini beliau tuangkan dengan membangun Museum Yantra.
Bangunan tiga lantai ini tidak hanya menjadi tempat menyimpan benda suci, tetapi dindingnya dipenuhi oleh cetakan Yantra raksasa yang dipahat dan dibentuk langsung oleh Luang Phor Sakorn berdasarkan buku peninggalan Luang Pu Tim.
Jejak Perjalanan Luang Phor Sakorn Lahir pada 3 Februari 1938 (2481 BE), Luang Phor Sakorn resmi ditahbiskan menjadi bhikkhu pada tahun 1958. Karena kecintaannya pada ilmu spiritual, selain belajar pada Luang Pu Tim, beliau berkelana menuntut ilmu dari banyak guru besar lainnya, di antaranya:
Luang Phor Pheng (Wat Lahan Yai)
Luang Pu Hin (Wat Nong Sanom)
Luang Pu Som (Wat Ban Chong)
Bahkan hingga ke Yangon (Myanmar) dan Kamboja untuk memperdalam ilmu gaib dan pengobatan tradisional.
Pada tahun 1965 (2508 BE), di usia yang masih sangat muda, beliau diminta oleh warga untuk menjadi Kepala Vihara Wat Nong Krap, sebuah vihara kuno berusia 200 tahun yang sempat terbakar habis. Beliau membangun vihara tersebut dari nol dengan tangannya sendiri.
Keajaiban Amulet dan Pesan Terakhir Luang Pu Tim Luang Phor Sakorn mulai membuat amulet pertamanya pada tahun 1965 (berupa Somdej Rasmee hitam). Di tahun 1981, beliau membuat amulet Somdej Phuttha Nimit yang sangat terkenal. Kepopuleran amulet ini meledak setelah seorang tentara Marinir Thailand yang memakainya menginjak ranjau darat hingga tubuhnya terpental, namun keajaibannya, tentara tersebut selamat tanpa luka sedikit pun.
Kemampuan magis dan moralitas Luang Phor Sakorn tidak perlu diragukan lagi. Pernah suatu ketika, saat Luang Pu Tim masih hidup, para murid bertanya kepada beliau:
"Luang Pu, jika kelak Engkau telah tiada, kepada siapakah kami harus bergantung?"
Dengan tenang, Luang Pu Tim menunjuk ke arah seorang bhikkhu muda yang sedang duduk melayaninya, dan berkata:
"Itu... Phor Sakorn. Dia telah mempelajari banyak sekali ilmu dariku."
Hingga akhir hayatnya, Luang Phor Sakorn Manunyo dikenal sebagai permata spiritual dari Rayong—seorang guru yang memegang teguh disiplin (Dhamma Vinaya), hidup sederhana, dan menjadi pewaris sejati dari wicha legendaris Luang Pu Tim

Comments
Post a Comment